Preloader
img

Apa Itu Tone Deaf? Istilah yang Ramai Dibicarakan Netizen

Penulis: Dwi Khusnul Umayati

 

Apa itu Tone Deaf - Istilah yang Ramai Dibicarakan Netizen — beberapa waktu ini tone deaf menjadi bahasan di berbagai media sosial. Istilah ini digunakan netizen untuk melabeli orang-orang berdasarkan sikap mereka dalam menanggapi situasi politik di Indonesia saat ini. Tapi apakah kamu tahu apa itu tone deaf?

Saat ini, banyak istilah berbahasa Inggris yang ramai digunakkan oleh netizen Indonesia seperti pick me, catch up, ate dan tone deaf. Di artikel ini kita akan membahas apa itu tone deaf secara lengkap.

Secara harfiah, tone deaf adalah sebuah istilah yang digunakan untuk seorang musisi yang tuli nada, atau tidak mampu mengenali nada yang berbeda atau menyanyikan lagu dengan baik, seperti dikutip dari cambridge dictionary. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1890-an. 

Penggunaan istilah ini kemudian berkembang sebagai sebuah kiasan untuk menggambarkan seseorang yang tidak memiliki kepekaan, kepedulian, dan tidak bisa menempatkan diri pada situasi tertentu. Tone deaf juga ditujukan kepada orang-orang yang dirasa merugikan orang lain akan pendapat dan sikapnya terhadap suatu isu. 

Di pembahasan apa itu tone deaf ini kita juga akan mengetahui apakah kamu termasuk orang yang tone deaf?  Berikut beberapa sikap seseorang yang bisa dikatakan tone deaf.

Baca juga: Penggunaan Bahasa Inggris dalam Bisnis Penting? Inilah Alasannya Serta Manfaat Business English 

Sikap-Sikap yang Membuat Seseorang disebut dengan Tone Deaf 

  1. Tidak peduli terhadap sebuah isu dan masalah

Beberapa waktu terakhir, tone deaf kembali ramai dibicarakan menyusul naiknya isu politik terkait perubahan RUU Pilkada. Masyarakat Indonesia di media sosial mulai menggunakan istilah ini untuk orang-orang pemerintahan hingga sesama pengguna media sosial yang tidak peduli akan dampak dari perubahan RUU tersebut. 

Ketidakpekaan seseorang terhadap isu politik ini, contohnya mengirim ujaran kebencian pada orang-orang yang sedang mengungkapkan aspirasi kepada pemerintah, atau seseorang yang memandang rendah keadaan seseorang yang disebabkan oleh keputusan pemerintah merupakan sikap-sikap yang menunjukan sikap tone deaf.

  1. Ketidakpekaan terhadap perasaan orang lain

Tidak hanya digunakan pada situasi politik saat ini, tone deaf sudah banyak digunakan netizen dalam menanggapi sikap orang-orang terhadap berbagai macam isu, seperti isu kemiskinan, pendidikan hingga kasus kriminal. Sebagai contoh, ketika seseorang menanggapi cerita seseorang tentang kesulitan hidupnya dengan kalimat yang memojokkan dan menyalahkan si pencerita alih-alih mendengarkan dan bersimpati.

 

  1. Tidak Memahami dan Menghormati Nilai-Nilai Sosial

Nilai-nilai sosial hidup bersama masyarakat untuk mengendalikan tingkah laku manusia. Ketika seseorang mulai melanggar nilai-nilai tersebut hingga merugikan orang lain, maka bisa kita sebut orang tersebut tone deaf. Sebagai contoh sebuah nilai kesopanan yang hadir dalam masyarakat sejak lama dilanggar oleh seseorang, tapi orang yang tone deaf tidak akan menggubris ketika diperingatkan. Tentunya, ketika sebuah nilai yang dihormati dan dipertahankan sejak lama dilanggar oleh seseorang, akan muncul masalah dalam kelompok masyarakat tertentu. 

  1. Tidak Menghormati Budaya dan Adat Istiadat

Budaya dan adat istiadat biasanya sangat dijunjung tinggi suatu kelompok masyarakat tertentu. Seseorang dikatakan tone deaf ketika tidak bisa menghormati budaya dan adat istiadat yang ada. Contohnya, ketika pergi ke suatu daerah, kita harus menghormati dan mematuhi adat istiadat yang ada. Ketika kita memilih untuk menghiraukan bahkan melanggar adat istiadat tersebut, tentu kita dikategorikan sebagai orang yang tak acuh.

Kamu sudah mengetahui apa itu tone deaf dan bagaimana sikap yang menunjukan perilaku tersebut. Sekarang kamu pasti berpikir mengapa seseorang berperilaku tone deaf

 

Faktor Penyebab Sikap Tone Deaf 

  1. Pengaruh Status Kelas Sosial dan Ekonomi 

Tidak bisa dipungkiri bahwa status kelas sosial dan ekonomi seseorang memengaruhi sikap seseorang dalam bersikap serta bagaimana mereka memandang suatu isu tertentu. Orang-orang dengan status kelas menengah ke atas cenderung berada pada zona nyamannya, sehingga ketika dihadapkan dengan sebuah situasi, sebagai contoh kebijakan pemerintah yang menyusahkan masyarakat miskin, orang-orang tersebut menjadi tone deaf karena tidak pernah berada pada situasi yang sama. 

Orang-orang dengan status sosial yang sama cenderung lebih bisa berempati kepada sesamanya. Dalam konteks politik juga, seseorang dari kelas menengah ke bawah yang banyak terdampak kebijakan pemerintah akan lebih peka dan peduli terhadap isu yang ada, serta tidak akan mengkerdilkan perjuangan kelompoknya. 

  1. Pengaruh Tingkat Pendidikan 

Tingkat pendidikan juga memengaruhi kesadaran dan kepekaan sosial seseorang. Seseorang dengan tingkat pendidikan rendah cenderung acuh terhadap isu sosial, hal ini terjadi karena informasi yang mereka dapat terbatas. Begitu juga dengan pemahaman mereka yang akan lebih rendah dibanding dengan orang-orang berpendidikan lebih tinggi. Ketika seseorang menerima lebih banyak ilmu dan informasi, akan lebih dalam lagi pemahamannya.

Namun, perlu diingat bahwa kedua faktor di atas tidak selalu menjadi penyebab seseorang menjadi tone deaf. Sejatinya, manusia memiliki hati nurani. Kepekaan dan kepedulian terhadap sesama dan kepada isu-isu yang terjadi di sekitarnya akan menggerakan hati nuraninya. 

Pada kenyataan yang terjadi, banyak orang-orang dengan kelas sosial yang tinggi bersimpati dan ikut berjuang bersama orang-orang menengah ke bawah karena ia menuruti nuraninya, sebaliknya terkadang seseorang dengan status sosial yang sama bisa bersikap tone deaf karena tidak ingin terlalu peduli. Biasanya, mereka melakukan pembelaan seperti, “Apapun kebijakannya, saya tetap cari makan sendiri.

Begitu pun dengan orang berpendidikan rendah yang terkadang lebih peduli dan peka terhadap suatu isu yang terjadi dibanding mereka yang berpendidikan lebih tinggi. Mengapa bisa begitu?

Karena kita sendiri yang menentukan bagaimana kita ingin bersikap. Seseorang berstatus sosial rendah bisa saja memiliki tekad untuk peduli dengan isu yang terjadi di sekitarnya karena merasakan ketidakadilan. Sebagai contoh pada aksi demonstrasi RUU Pilkada yang terjadi kemarin, seorang pedagang dan sopir ojek ikut membantu para mahasiswa. Walaupun mereka tidak terlalu memahami mengenai isu tersebut, mereka tetap mendukung segala perjuangan dengan cara mereka masing-masing.

Kamu juga perlu tahu bagaimana istilah tone deaf ini digunakan, setelah memahami apa itu tone deaf agar tidak salah menggunakannya!

 

Contoh Penggunaan Istilah Tone Deaf dalam Beberapa Kalimat 

  1. Indonesian are outraged at the president’s tone deaf response to the student protest yesterday. 

Masyarakat Indonesia merasa marah atas tanggapan presiden terhadap aksi demonstrasi mahasiswa kemarin.

  1. His tone-deaf answer in yesterday’s interview made fans furious and decided not to attend his concert next year.

Jawaban tidak acuhnya pada wawancara kemarin membuat para penggemar geram dan memutuskan untuk tidak hadir pada konsernya tahun depan. 

  1. A state official showing off a piece of cake worth one month’s salary of a honorary teacher shows a next level of tone deaf.

Seorang pejabat negara yang memamerkan sepotong kue seharga gaji satu bulan seorang guru honorer menunjukan level ketidakpekaan yang tinggi.

  1. The television show was very tone deaf for used the story of a crime victim as a joke.

Acara televisi itu sangat tidak pantas karena menjadikan cerita korban kejahatan sebagai candaan.

  1. Seek out as much information as possible so that you don't look like a tone deaf person. 

Carilah informasi sebanyak mungkin agar kamu tidak terlihat seperti orang yang tak acuh.

 

Baca juga: IELTS Speaking: Cara Meningkatkan Kefasihan dan Koherensi Anda 

 

Sekarang kamu sudah tahu kan, apa itu tone deaf dan bagaimana contoh sikapnya, penyebab perilaku itu muncul  hingga contoh penggunaannya. Tentunya kamu nggak mau, kan, menjadi orang yang Tone Deaf. Lalu bagaimana cara agar kita menjadi orang yang tidak tone deaf?

 

Cara Menjadi Orang yang Tidak Tone Deaf

Berusaha Memahami Keadaan dan Perasaan Orang Lain

Sebagai masyarakat sosial, kita tentu harus berhubungan dengan orang-orang berlatar belakang berbeda. Agar kita tidak menjadi orang yang tone deaf, berusahalah memahami keadaan dan perasaan orang lain, bahkan jika orang tersebut mengalami suatu hal yang belum pernah kita alami. Kita mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya bekerja dari pagi hingga pagi lagi demi sesuap nasi, tapi kita bisa memahami dan memberi validasi keluhan mereka.

Mencari Informasi Tentang Isu Sekitar

Salah satu hal yang belakangan ramai dibicarakan adalah orang-orang yang bersikap tone deaf karena menganggap kebijakan pemerintah tidak akan berdampak pada kehidupan mereka. Dari penjelasan mengenai apa itu tone deaf di atas kita tahu bahwa reaksi seperti ini menunjukan seseorang tersebut bersikap tone deaf

Jangan malas mencari informasi dan bertanya pada orang yang lebih mengerti mengenai suatu isu tertentu. Mungkin karena terbatasnya informasi dan ilmu tersebut yang menjadikan seseorang cenderung tidak mau peduli.

Dari seluruh pembahasan mengenai apa itu tone deaf dan hal-hal terkait, kita juga perlu memahami bahwa istilah-istilah berbahasa Inggris yang marak dipakai di media sosial saat ini bukan semata-mata karena superioritas atau pencitraan, tetapi juga digunakkan sebagai bentuk kritik sosial.

Tone Deaf yang awalnya digunakan untuk melabeli seorang musisi, kini digunakan untuk mengkritik pejabat negara maupun masyarakat yang tak acuh pada situasi negara atau isu lainnya. Bahkan ramainya penggunaan istilah ini bisa meningkatkan keingintahuan masyarakat tentang apa itu tone deaf yang merupakan istilah berbahasa Inggris. Tentunya masyarakat akan lebih berminat mempelajari lebih banyak lagi istilah asing. 

Melihat penggunaan istilah tone deaf yang marak dan cukup berpengaruh ini, menunjukan bagaimana pentingnya mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Ketidaktahuan terhadap suatu istilah asing kerap kali membuat kita ketinggalan trend dan pembahasan netizen di media sosial.

Bahkan di luar dari istilah tone deaf ini sendiri, penggunaan bahasa Inggris dalam pembahasan isu-isu dalam negeri sudah sangat marak. Terkadang kita merasa acuh karena tidak mengerti bahasa yang digunakan, padahal bahasa Inggris sangat penting dipelajari agar informasi yang kita dapat lebih luas lagi.

Dalam mempelajari bahasa Inggris kita memerlukan tekad yang kuat, karena belajar suatu bahasa membutuhkan kesabaran dan fokus yang tinggi. Selain tekad, tentunya kita perlu menunjangnya dengan sarana yang baik. Salah satu sarana belajar bahasa Inggris adalah dengan mengikuti kursus.

Baca jugaBahasa Inggris, Benarkah Menjadi Bahasa yang Paling Dikuasai Gen Z? 

 

Fasih Berbahasa Inggris Lewat Kursus Tepercaya Transfer  Akademi

 

Ada banyak sekali kursus bahasa Inggris yang ditawarkan, seperti kursus yang ditawarkan oleh PT Pratama Transsoftware Inti Bahasa yang bernama Transfer Akademi. Transfer Akademi adalah sebuah kursus bahasa Inggris yang memungkinkan kalian untuk belajar bahasa Inggris secara online maupun tatap muka. 

Transfer Akademi juga menyediakan berbagai paket kursus bahasa Inggris, mulai dari kelas anak-anak hingga persiapan tes Toefl untuk persiapan sidang maupun beasiswa internasional. Saat ini Transfer Akademi menawarkan HARGA PROMO untuk kelas FluentTalk dari harga Rp 199.000,00 menjadi hanya Rp 44.000,00 atau setara Rp 4000,00 untuk satu kalpertemuan.  Kelas ini memberikan banyak benefit untuk kalian yang ingin fasih berbahasa Inggris, mulai dari tutor-tutor profesional, recording pembelajaran seumur hidup metode pembelajaran praktek, grup diskusi dan banyak potongan harga.

Transfer Akademi sangat cocok untuk kalian yang baru belajar bahasa Inggris  maupun kalian yang ingin mengembangkan skill bahasa Inggris ke tingkat yang lebih tinggi. Temukan berbagai pilihan kelas dan harga yang cocok untuk kamu, kunjungi websitenya di www.transferakademi.id dan instagram di @transferakademi. Segera daftar dan dapatkan kursus Bahasa Inggris tepercaya dengan harga terjangkau!

Baca juga: Ingin Kuliah di Korea Selatan dengan Gratis? Ini Rahasia Esai yang Lolos Beasiswa GKS 2024, Gak Perlu Bisa Bahasa Korea, Lo! 



 

 

0 Comments

Post a comment

Login to Comment